Advertisement
Banyak orang mengira tidur dengan bantal tinggi atau bertumpuk akan memberikan kenyamanan ekstra. Namun, kenyamanan semu ini bisa menyimpan risiko kesehatan yang sering terabaikan. Alih-alih bangun dengan tubuh segar, penggunaan bantal yang tidak tepat justru berpotensi memicu nyeri leher berkepanjangan dan kondisi saraf terjepit.
Saraf terjepit di leher, atau cervical nerve entrapment, bukan masalah sepele. Kondisi ini dapat mengganggu fungsi tulang belakang dan membatasi aktivitas sehari-hari jika tidak ditangani dengan benar. Banyak kasus dimulai dari gejala ringan, seperti rasa tidak nyaman di kepala, nyeri leher, hingga pundak kaku. Pada tahap lanjut, nyeri bisa menjalar ke tangan, menimbulkan rasa semutan, kelemahan otot, bahkan memengaruhi anggota gerak bawah seperti kaki.
Dokter Spesialis Orthopedi dan Traumatologi RS Fatmawati, Dr. dr. Didik Librianto, Sp.OT, menekankan pentingnya posisi leher saat tidur. “Bantal yang terlalu tinggi memaksa leher berada dalam posisi menekuk terlalu lama. Hal ini meningkatkan tekanan pada cakram tulang belakang, yang lama-lama dapat menonjol dan menjepit saraf di sekitarnya,” ujarnya.
Untuk mencegah risiko saraf terjepit, Dr. Didik menyarankan penggunaan satu bantal dengan tinggi yang wajar, sehingga posisi leher tetap tegak dan sejajar dengan tulang belakang. Posisi tidur yang salah hanya akan memperparah keluhan yang sudah ada. Selain itu, menjaga pola hidup sehat seperti berat badan ideal, olahraga rutin dengan teknik benar, dan postur yang baik saat duduk maupun berdiri juga membantu mengurangi risiko gangguan saraf.
Bagi yang sudah merasakan gejala nyeri leher yang tidak kunjung membaik dalam beberapa hari, Dr. Didik menekankan pentingnya memeriksakan diri ke dokter. Pemeriksaan fisik awal, dan bila perlu pemeriksaan lanjutan seperti MRI, dapat membantu mengetahui tingkat penjepitan saraf. Penanganan saraf terjepit tidak selalu harus operasi; banyak kasus berhasil dikelola melalui fisioterapi, obat anti-inflamasi, dan terapi suportif seperti akupunktur. Deteksi dini tetap menjadi kunci agar kualitas hidup tetap terjaga tanpa komplikasi permanen.
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
